Sabtu, 25 Juni 2011

TUNTUNAN MENYANDARKAN DIRI HANYA KEPADA ALLAH SWT

(1)
” Setengah dari tanda bahwa seseorang itu bersandar dari pada kekuatan amal usahanya, yaitu kekurangannya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan/dosa “
kalimat : Laa ilaaha illallaah. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah. tidak ada yang menghidupkan dan mematikan , tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah swt.
Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedangkan hakikat syariat melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia rahmat Allah.
Kalimat : Laa haula walaa quwwata illa billahi. Tidak ada daya untuk mengalakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmatNya semata-mata.
Dalam surat Yunus :59 di sebutkan :
“ katakanlah : hanya karena merasakan karunia rahmat Allah lah kamu boleh bergembira, dan itulah yang lebih baik (berguna) bagi mereka dari pada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.”
Sedang bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada karunia Allah yang memberi taufiq hidayah kepadanya yang akhirnya pasti ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagimana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada nabi Adam, ia berkata :
aku lebih baik dari Adam ( Ana Khorun Minhu )
Juga pada Qorun ia berkata :
” Sesunggguhnya aku mendapat kekayaan ini karena ilmuku semata-mata.” ( Al-Qashash :78)
Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat , taufiq dan karunia Allah.
Sedangkan kita harus bertauladan pada Nabi Sulaiman as ketika ia menerima nikmat karunia Allah, ketika mendapat istana ratu Bilqis .
Firman Allah dalam surat An-Naml : 40
” Ini semata-mata dari karunia Tuhanku, untuk menguji padaku, apakah aku bersyukur atau kufur. Maka siapa syukur, maka syukur itu untuk dirinya.Dan siapa kufur, maka Tuhanku dzat yang terkaya lagi pemurah (tidak berhajat sedikitpun dari makhluknya, bahkan makhluk yang berhajat kepada Nya)”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar